“Jadi Guru Harus Tahu Cara Dakwah Rasulullah Saw yang Harus di Tiru” ( Siti Nuril Fitriyati,S.Pd.I )
Keberhasilan Rasulullah Saw melakukan
dakwah Islamiyah tidak lepas dari strategi yang menakjubkan. Selama 23 tahun
berdakwah di Makkah dan Madinah, Nabi Saw tidak pernah menyampaikan kebenaran
dengan menyakiti perasaan orang yang diajaknya. Tidak ada kata-kata kotor
menyertai, tak ada kemarahan yang mengikuti. Bahkan menyindir orang lain tidak
pernah dilakukan oleh Rasulullah. Tak satupun sahabat tersakiti dari sosok
makhluk yang agung ini. Tak heran jika para ulama berkata: "Tak ada
manusia yang dalam dirinya terkumpul kesempurnaan kecuali ada pada diri Nabi
Muhammad (SAW)."
Ya..sosok seorang Nabi yang
semua ajaranya sepanjang hayat.membawa Rahmat bagi seluruh alam dan seluruh
makhluk. Lalu ,apakah bisa jika posisi kita sebagai seorang pendidik /guru
menerapkan cara dakwah Rasulullah Saw kepada anak didik kita ? sangatlah bisa
dan harus bisa menerapkan cara dakwah Rasulullah Saw Tersebut.
Berikut cara Dakwah Nabi Muhammad sebagaimana dikutip
dari Buku "Manusia Yang Tidak Seperti Manusia" karya Ustaz Ahmad
Zarkasih.
1. Tidak Menghina Orang yang Salah
Dalam Sahih
Al-Bukhari dalam Bab Shalat Tahajjud, Nabi pernah memberikan nasihat kepada
para sahabat untuk tidak mengikuti 'Fulan', sebab si "Fulan" malam
hari bangun, tapi tidak sholat. Maksudnya kalau bangun di malam hari, sempatkan
sholat malam. Jangan ikuti perilaku si "Fulan" yang jelas terindikasi
buruk oleh Nabi. "Wahai Abdullah, jangan jadi seperti Fulan: dia itu
bangun di malam hari akan tetapi tidak sholat malam." (HR Al-Bukhari)
Hebatnya tak ada nama yang disebut Nabi. Walaupun beliau tahu siapa yang tidak
sholat, beliau tidak menyebut nama orang tersebut, agar tidak dipandang rendah
sahabat lain yang membuat si "Fulan" jadi malu. Begitulah cara
Rasulullah menutupi aib orang lain.
2. Selalu Menyenangkan Hati Orang Lain
Muslim bin
al-Hajjaj dalam Sahih-nya pernah meriwayatkan cerita rumah tangga Nabi, yang
pulang ke rumah Sayyidah 'Aisyah, lalu bertanya tentang ketersediaan makanan di
rumahnya. Ternyata, tidak ada makanan yang bisa dimakan. Nabi marah? Tidak!
Justru Nabi membalas: "Ya sudah kalau begitu saya puasa saja."
Mungkin beda ceritanya kalau itu terjadi di rumah kita. Bukan tidak mungkin
kita akan marah, bahkan marah dengan plus-plusnya. Begitulah sosok Nabi, di
tempat yang 'wajar' marah, tapi beliau justru memilih ibadah.
3. Mengedepankan Baik Sangka
Diriwayatkan
oleh semua ulama sunan (Imam Abu Daud, al-Tirmidzi, al-Nasa'i juga Ibnu Majah)
termasuk Al-Bukhari dan Muslim bin al-Hajjaj, Nabi Muhammad menetapkan hukum
bagi mereka yang meninggalkan sholat. Beliau katakan: "Siapa yang tidur
atau lupa sehingga meninggalkan sholat, maka baginya mengganti sholat itu
ketika ia sadar/bangun". Maksudnya wajib qadha sholat bagi yang
meninggalkan shalat karena tidur atau lupa. Walaupun ada ulama yang mengamalkan
secara tekstual, bahwa yang wajib qadha itu hanya orang lupa dan tidur. Tapi
mazhab 4 Sunni muktamad sepakat bahwa qadha itu wajib bagi mereka yang
meninggalkan sholat, apapun alasannya. Lupa dan tidur yang masuk kategori tidak
berdosa saja wajib qadha, apalagi yang meninggalkannya sengaja, tentu jauh
lebih wajib lagi. Dengan bahasa yang lebih sederhana: "Muslim itu
(idealnya) tidak mungkin meninggalkan sholat. Kalaupun meninggalkan shalat, itu
mesti karena ketidaksengajaan atau karena memang di luar kontrolnya; mungkin
dia lupa atau mungkin juga dia ketiduran". Itulah Nabi, menyampaikan
sesuatu sambil mengajarkan baik sangka dan adab.
4. Tidak Membalas Laknat dengan Laknat
Dan
nyatanya, non-muslim pun diperlakukan sama oleh Nabi Muhammad. Sama-sama tidak
ada sindiran serta tak juga menyakiti perasaan. Lihat saja riwayat Al-Bukhari
dalam bab al-Isti'dzan. Ketika ada seorang Yahudi datang ke rumah Nabi sambil [السام
عليك يا دمحم] redaksi dengan salam "kecelakaan bagimu, Muhammad".
Mendengar sang suami dicela, Sayyidah 'Aisyah marah. Dengan nada tinggi beliau
membalas: "واللعنة السام وعليك" (bagimu juga kecelakaan dan laknat
Tuhan). Mendengar Sayyidah ‘Aisyah yang marah, Rasulullah kemudian berkata
kepadanya: "Tenang wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah cinta kelemahlembutan
dalam segala perkara". Kemudian Nabi menjelaskan, bahwa menjawab salam
seperti itu cukup dengan kalimat "wa'alaikum", tidak perlu marah
sambil melaknat. Karena memang Allah cinta kesantunan dalam segala perkara.
Lihat bagaimana luhurnya akhlak Nabi, bahkan kepada non-muslim sekalipun, beliau
tidak membalas dengan laknat.
5. Tidak Menebar Murka
Cara dakwah
Nabi yang patut ditiru juga yaitu tidak pernah menebar murka. Hal ini bisa kita
lihat dari pesan surat-surat Nabi yang disampaikan beliau kepada para raja-raja
saat mendakwahkan Islam. Dari mulai Muqouqis (Penguasa Mesir), Hiraql (Raja
Rum), Kista (Petinggi Persia), al-Mundzir (Pemangku Bahrain), sampai al-Najasyi
(Etiophia). Berikut redaksi surat beliau yang isinya sangat mengagumkan:
"Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ini dari Muhammaad
Rasulullah kepada Hiraql penguasa Romawi. Keselamatan bagi mereka yang
mengikuti petunjuk. Dengan ini, saya mengajak anda untuk memeluk agama Islam.
Masuk Islam, adan akan selamat. Jika anda masuk Islam, Allah akan memberikan
anda pahala 2 kali. Tapi jika anda berpaling, anda mendapatkan dosa sebagaimana
kaum Aris. "Wahai orang-orang ahli Kitab, kemarilah kepada kalimat
kebenaran antara kita dan kalian yakni untuk tidak menyembah selain Allah … dan
saksikanlah bahwa kami orang-orang Islam." (Ali Imran: 64) Adakah kalimat
murka atau laknat sambil menghakimi bahwa mereka raja zalim yang mengajak
penduduknya menuju kesengsaraan? Tidak. Justru Nabi mengajak dengan penuh
santun dan tetap mengakui kedudukan mereka sebagai raja. Bahkan di awal suratnya
beliau selalu menuliskan 'jabatan' si tertuju surat, padahal mungkin saja
kepemimpinannya diraih dengan jalan yang Islam tidak meridhai itu. Tapi Nabi
tetap menghormati itu.
Begitulah karakter Nabi,
beliau bersikap santun kepada siapapun dan memang itulah misi beliau sebagai
Rasul Allah. Karena itu, mari sebagai
seorang pendidik harus bisa meniru gaya berdakwah sebagaimana Nabi berdakwah,
dengan arif dan santun. Juga memberikan uswah /teladan bagi anak didik kita agar
tetap berpegang pada ajaran Allah Swt dan Rasulullah Saw di tengah gempuran era
digital sekarang. Mari bersama-sama membentuk akhlak dan jkarakter baik untuk
anak didik kita agar menjadi generasi penerus yang Islami. Semoga Allah
senantiasa merahmati kita semua.
Fastabiqul Khairat.

Komentar
Posting Komentar