Pemuda
Masa Kini, Meneruskan Tradisi Nabi
Penulis : Zainal Nanang Taufik
Pada masa muda, seorang pemuda punya
potensi yang luar biasa. Gelora, semangat, dan rasa ingin tahunya sedang
menggebu-gebu. Sehingga tak jarang, dalam proses pencarian jati dirinya,
seorang pemuda justru tersesat pada jalan yang salah, terjebak dalam perbuatan
maksiat dan terjerumus dalam dosa. Oleh karena itulah, mereka sangat butuh
bimbingan.
Terkait hal itu, Nabi Muhammad SAW memberikan nasehat untuk para pemuda. Apa saja?
Jeli Dalam Memilih Teman Dekat
Para pemuda harus pintar dalam memilih
teman dekat, karena pemuda lebih mudah terpengaruh oleh temannya dibandingkan
yang lainnya. Sehingga kalian harus memahami urgensi dalam memilih teman,
jangan berteman kecuali dengan seorang yang sholeh.
Allah SWT berfirman dalam surat al
Furqan ayat 27-29 mengenai besarnya pengaruh seorang teman terhadap temannya.
“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”. Menggigit tangan (jari) maksudnya menyesali perbuatannya.” (QS Al Furqan: 27)
“Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Yang dimaksud dengan si Fulan, ialah syaitan atau orang yang telah menyesatkannya di dunia.” (QS Al Furqan: 28)
“Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (QS Al Furqan: 29)
Salah memilih teman itu bisa berbahaya.
Karena besarnya pengaruh seorang teman Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi
Wasallam sampai memberi perumpamaan kepada para pemuda
tentang teman yang baik dan teman yang buruk. Seperti disebutkan dalam hadits
Abu Musa al Asyari, dari Nabi, beliau bersabda:
“Perumpamaan
teman yang baik dan teman yang buruk laksana pembawa minyak wangi dan pandai
besi. Pembawa minyak wangi bisa jadi akan memberimu wewangian atau kamu membeli
wewangian darinya atau kamu mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai
besi bisa jadi akan membakar bajumu atau kamu mendapatkan aroma tidak sedap
darinya.” (HR. Bukhari)
Jadi
seperti apa teman yang baik itu ?
Imam Al Ghazali menyebut syarat syatat yang harus dimiliki seorang teman, “Seyogyanya orang yang kamu pilih untuk menjadi teman memiliki 5 sifat berikut: Seorang yang berakal, akhlaknya baik, tidak fasik, bukan pelaku Bid’ah dan tidak Ambisi terhadap dunia.”
Perbaguslah Akhlakmu Terhadap Manusia
Wasiat nabi kepada para pemuda yang
kedua adalah memperbagus akhlak terhadap sesama manusia. Diriwayatkan dari
Muadz bin Jabal (beliau adalah sahabat nabi yang usianya masih muda) ia
berkata, “Wasiat terakhir yang disampaikan Rasulullah shalallahu alaihi
wassalam kepadaku adalah ketika aku meletakkan kaki di pelana dari kulit,
beliau bersabda, ‘Baguska nlah akhlakmu terhadap manusia wahai Muadz bin
Jabal.” (HR. Imam Malik dinyatakan dhoif oleh Albani)
Diriwayatkan juga dari Abdullah bin Umar bahwasannya Muadz
bin Jabal hendak melakukan perjalanan, ia berkata, “Wahai Rasulullah nasihatilah
aku.” Beliau bersabda, “Sembahlah Allah dan jangan menyekutukanNya dengan
sesuatu apapun.” Muadz berkata, “Wahai Rasulullah tambahkanlah.”
Beliau
bersabda, “apabila kamu meminta, maka baguskanlah sikapmu.” Muadz berkata,
“Wahai Rasulullah tambahkanlah.” Beliau bersabda, “Istiqamahlah dan hendaknya
kamu membaguskan akhlakmu.” (HR. Hakim dinyatakan Hasan oleh Al Albani).
Nasihat Nabi Untuk
Menjaga Lisan
Mengingat di fase-fase remaja syahwat
mereka tengah menggelora dan emosionalnya juga meningkat. Sehingga pemuda yang
tidak memperhatikan lisannya tidak memperhatikan nasehat Nabi Muhammad
Shallallahu Alaihi Wasallam, mereka akan mengeluarkan perkataan yang tidak
baik.
“Lidah
adalah tolak ukur yang diremehkan oleh kebodohan dan diunggulkan oleh akal”
demikian kata Ali bin Abi Thalib.
Keselamatan ada pada menjaga lidahnya,
sebab perkataan adalah penerjemah ia akan mengungkapkan apa yang tersimpan di
dalam sanubarinya serta mengabarkan apa yang disimpan dalam hati. Ali bin Abi
Tholib juga berkata, “Lidah adalah tolak ukur yang diremehkan oleh kebodohan
dan diunggulkan oleh akal”
Diriwayatkan
dari Uqbah bin Amir, ia berkata, “Aku bertanya wahai Rasulullah apa keselamatan
itu? Beliau bersabda, ‘Jagalah lidahmu, hendaknya rumahmu membuatmu lapang dan
menangislah atas kesalahanmu.” (HR. Tirmidzi)
Sebagaimana Rasulullah mewasiatkan sejumlah amalan kepada pemuda Muadz bin Jabal, beliau bersabda, “Maukah aku beritahukan kepadamu penghimpun semua itu?” Muadz menjawab, “Ya.” Beliau memegang lidahnya dan bersabda, “Jagalah ini atas dirimu.” Muadz berkata, “Wahai Nabi Allah, akankah kita dihukum atas apa yang kita ucapkan?” Beliau bersabda, “Celaka engkau wahai Muadz, tidakkah orang orang ditelungkupkan wajah mereka ke neraka kecuali akibat dari lidah mereka?” (HR. Ibnu Majah)
Menjaga Pandangan dari Perempuan yang Bukan Mahram
Hari ini fitnah begitu marak dan banyak
para pemuda yang termakan oleh syahwatnya terkhusus buat pemuda yang belum
menikah. Itu semua dimulai karena pandangan mata yang tidak terjaga. Diriwayatkan
dari buraidah dari ayahnya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Wahai Ali, Jangan melanjutkan pandangan tertuju pada perempuan yang bukan mahrom..” Ibnu Qayyim berkata, “Pandangan mata merupakan akar seluruh peristiwa yang menimpa manusia. Sebab pandangan melahirkan lintasan, lintasan melahirkan pikiran, pikiran melahirkan syahwat, kemudian syahwat melahirkan kemauan, selanjutnya kemauan menguat dan menjadi tekad membaja lalu terjadilah tindakan yang merupakan keniscayaan, kecuali bila ada penghalang yang menghalanginya. Dalam hal ini ada ungkapan, “Kesabaran dalam menundukkan pandangan lebih mudah daripada kesabaran menghadapi penderitaan yang (muncul) sesudahnya.”
Demikianlah nasehat Nabi kepada para Sahabat-Sahabat mudanya. Tentu nasihat ini akan berlaku untuk selamanya, dan sangat baik serta dapat menyelamatkan kita, para pemuda baik di dunia maupun akhirat.
Komentar
Posting Komentar